Rabu, 22 Juni 2011

Homiletik - Bag 1

HOMILETIK
(Bagian 1)

Berkhotbah tentang firman Tuhan merupakan suatu hak istimewa dan tanggung jawab yang besar karena Allah mempercayakan perkataanNya kepada seseorang. Bagi mereka yang merasa tidak mampu berkhotbah (orang bodoh, I Korintus 1:21), Allah menyatakan kehendakNya atau diriNya sendiri dengan perantaraan pribadi manusia. Melalui pengenalan kepada Allah akan membawa seseorang kepada keselamatan kekal melalui iman didalam Yesus Kristus yang akan mengubah mereka menjadi serupa dengan gambaran dan teladan Allah (II Korintus 3:18).

Pelajaran ini berisi tentang prinsip-prinsip dasar yang sederhana untuk berkhotbah, yang ditujukan terutama bagi para pemimpin gereja yang membutuhkan latihan untuk membangun kemampuan mereka yang terpendam.

Pada umumnya banyak hambah-hambah Tuhan dan pemimpin-pemimpin gereja tidak pernah mempunyai kesempatan untuk dilatih secara formal dalam ilmu berkhotbah ini, karena pada dasarnya mereka memiliki kemampuan dan keahlian yang sebagian besar belum dikembangkan.

A.  APAKAH HOMILETIK?
Ilmu berkhotbah yang disebut “Homiletik” berasal dari kata Grika “homileo” dan “homilia” yang berarti “percakapan atau pembicaraan yang membawa suatu pengertian” (Kisah 20:11). “Setelah kembali di ruangan atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan, habis makan masih lama lagi ia berbicara (berkhotbah atau homileo) sampai fajar menyingsing”

Homiletik adalah ilmu yang mempelajari bagaimana menyampaikan khotbah. Khotnah yang berhasil diperoleh dari hubungan dan persekutuan yang erat dengan Tuhan.

Ada dua aspek yang berhubungan dengan ilmu berkhotbah.
1.       Bersifat Keilahian
2.       Bersifat Manusia
Neh 8:9  Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.
               
Homiletik adalah ilmu yang mempelajari aspek tentang manusia, “BAGAIMANA BERKHOTBAH DENGAN EFEKTIF”.

Homelitik adalah ilmu untuk mengajar kita berkhotbah atau menyampaikan kebenaran Allah melalui pribadi manusia. Bagi seorang pengkhotbah yang terpenting adalah dapat mencapai kehendak Allah dan dapat menyampaikan kebenaran wahyu yang diberikan Allah secara efektif kepada jemaat Tuhan.

Supaya dapat melakukan tugas ini dengan efektif, kita harus belajar dari pengalaman hambah-hambah Tuhan yang lain.

  1. Menunggu dalam hadirat Allah.

Pertama, seorang pengkhotbah harus belajar bagaimana berada dalam hadirat Allah untuk memahami suara Allah yang berbicara di dalam roh kita.

Setiap khotbah yang bermanfaat bersumber dari hati dan pikiran Allah yang merupakan kebenaran, Allah adalah sumber dari seluruh pengetahuan kita dalam berkhotbah. Tugas yang pertama dari seorang pengkhotbah supaya dapat berhasil dengan efektif adalah belajar untuk menerima pikiran-pikiran Allah. Tidak semua orang dapat mendengar suara Allah dengan jelas. Bila kita menerima kebenaran Allah maka kebenaran itu akan meresap perlahan-lahan masuk ke dalam roh kita seperti embun di pagi hari. Seorang calon pengkhotbah juga harus belajar menunggu dalam hadirat Allah. Dia akan menerima pikiran dan kebenaran-kebenaran Allah yang berharga yang selalu ingin dibagikan kepada siapa saja yang mencari Dia dengan sungguh-sungguh. Bila kita terbiasa untuk selalu menyediakan waktu setiap hari untuk masuk ke dalam hadirat Allah dan menunggu dengan tenang di hadapanNya, kita akan segera mempelajari bagaimana untuk mendengar suara Allah yang berbicara di dalam roh kita.

Kita masuk  ke dalam hadirat Allah tidak hanya untuk “mendapatkan suatu khotbah” saja, tetapi yang terutama adalah supaya kita dengan rendah hati menerima nasihat dan pewahyuan mempersiapkan khotbah untuk esok hari, tentunya ini bukan merupakan sikap hati yang benar untuk dapat menerima wahyu dari Allah (Kebenaran Allah). Kita seharusnya membiarkan kebenaran firman itu mengubah kehidupan kita sebelum kita membagikannya kepada orang lain.

  1. Mempelajari Alkitab

Sebaiknya, seorang pengkhotbah datang di hadapan Allah dengan Alkitab yang terbuka, dengan ketenangan dan kesabaran menunggu untuk mendapatkan pewahyuan atas firmanNya. Kita harus sungguh-sungguh berdoa untuk mendapatkan nasehat, hikmat dan perintah Tuhan melalui firmanNya. Bukalah Alkitab kita dan bacalah pada waktu kita berada di hadiratNya.

Perlu juga untuk mengikuti pola membaca alkitab secara teratur, dan lakukanlah mulai hari ini. Cara ini menolong kita supaya kita tidak membaca Alkitab dengan tidak terarah, yang akhirnya mengabaikan ayat-ayat yang indah. Dan yang terpenting adalah kita harus peka terhadap suara Roh Kudus yang berbicara melalui pembacaan firman Tuhan.

  1. Siapkan sebuah buku catatan 

Buku catatan ini berguna untuk mencatat ide-ide yang muncul dalam pikiran kita pada saat kita menanti di hadapan Tuhan. Bila ide-ide tersebut tidak segera dicatat, maka akan mudah terlupakan. Ide-ide tersebut bisa berupa ayat-ayat yang terlintas saat kita berdoa dalam hadirat Allah. Bila ayat-ayat tersebut ditujukan untuk diri kita sendiri, lakukanlah sejauh kita dapat melakukannnya dan tuliskanlah. Kita akan segera mendapatkan sumber yang bagus sebagai materi khotbah. Bacalah apa yang sudah kita tuliskan tadi setiap saat. Maka ayat-ayat firman itu akan melekat dalam hati kita. Lalu kita akan mendapat beberapa thema yang akan mengisi pikiran kita dan akan terus berkembang sementara kita merenungkannya.

Biasakan untuk berbicara kepada Tuhan mengenai firmanNya. Bila ada sesuatu yang tidak kita mengerti, bertanyalah kepada Roh Kudus untuk menyatakan pengertiannya. Bertanyalah terus sampai di wahyukan dalam roh kita (Efesus 1:17). Kemudian kita belajar menanti dengan tenang dan sabar dihadapan Allah sampai Dia memberikan jawaban dengan lembut dalam roh kita. Setelah kita mendapatkan jawaban tersebut, catatlah dalam buku, jangan hanya diingat saja.

  1. Dibersihkan Melalui Firman Tuhan / Diberi Makan 

Pada waktu kita mempersiapkan khotbah, hindarilah untuk menggunakan kemampuan akal pikiran kita tanpa bergantung kepada Allah, dengan tujuan supaya khotbah kita dapat membakar rohani seseorang. Akuilah kebutuhan hati kita kepada Allah untuk diubahkan melalui firmanNya dan oleh RohNya yang mencuci dan membersihkan kita.

Kita juga harus memberi makan jiwa kita. Seringkali seseorang pengkhotbah atau hambah Tuhan jatuh kedalam perangkap ini. Mereka hanya bertujuan untuk menyimpan makanan untuk jemaatnya, sedangkan kesejahteraan rohani mereka sendiri diabaikan. Salah satu resiko dalam pelayanan, dinyatakan didalam Kidung Agung 1:6.  “…. Aku dijadikan mereka penjaga anggur, kebun anggurku sendiri tidak kujaga”.

Hal ini merupakan salah satu alasan yang tepat bahwa banyak pelayan-pelayan Tuhan yang mengalami kegagalan atau tidak dapat menghasilkan apa-apa dengan mengabaikan kehidupan rohaninya sendiri. Biarlah firman Allah berakar dalam hati dan roh kita dan bertumbuh dengan kuat dalam kehidupan pribadi dan pengalaman kita. Dan pada saat kita berkhotbah, kita berkhotbah bukan berdasarkan teori, tetapi berdasarkan apa yang kita alami dan kita terima dari Tuhan.

Ayat berikut ini mengajarkan kita, “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya” (II Timotius 2:6). Apa yang kita tanam itulah yang kita tuai (di dalam rohani kita) haruslah kita yang pertama menikmati (pengalaman kita) sebelum memberi makan orang lain. Bila kita tidak makan terlebih dahulu, tentu kita tidak akan memberi makan orang lain. Kita tidak akan mencoba menuntun orang lain menyusuri jalan-jalan yang sempit (kecil) kalau kita tidak pernah melaluinya. Firman Allah yang merubah kehidupan kita itu akan menjadi pesan-pesan Allah untuk jemaat kita. Kita tidak akan menjadi seorang yang hanya menyampaikan khotbah, tetapi menjadi orang yang hidupnya untuk melayani, memberkati dan menguatkan orang-orang yang mengenal dan mendengarkan kita.

B. BEBERAPA PENDAPAT YANG SALAH MENGENAI HOMILETIK.

Ada 4 kesalahan yang sering dilakukan orang-orang dalam menghargai Homiletik.

1.       Mempersiapkan Dianggap Tidak Berguna / Sia-sia  

Ada pendapat yang mengatakan bahwa mempersiapkan sesuatu yang tidak berguna itu menunjukkan bahwa kita kurang beriman. Pendapat seperti ini tidak benar. Artinya, bila seorang mempunyai pendapat seperti ini, ia berpikir bahwa tidak perlu untuk mempersiapkan khotbah sebelumnya, karena ia cukup bergantung pada imannya. Bahwa Allah akan menyediakan perkataan dalam mulutnya pada saat ia berdiri untuk berkhotbah.

Dalam Mazmur 81: 11 dikatakan, ‘….bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh”. Ayat ini bukan mengatakan bahwa kita tidak perlu melakukan apa-apa dalam berkhotbah. Tetapi bila seseorang mengambil ayat ini sebagai standar dalam berkhotbah maka type orang semacam ini dinamakan sikap yang tidak bertanggung jawab dan dibuat-buat. Dan kata-kata yang diucapkannya disebut dengan perkataan omong kosong. Janganlah kita sembrono dalam berkata-kata karena setiap kata-kata kita dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Tetapi bila Allah menyuruh kita menyampaikan sesuatu saat berkhotbah, jangan kita ragu-ragu untuk mengatakannya.

bersambung ke Homiletik - Bag 2